KONSEP KEUTAMAAN IMAN DAN ILMU DALAM SURAT AL MUJADILAH
AYAT 11
(Kajian Tafsir Al Azhar Karya Buya Hamka)
Makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Tafsir
Dosen Pengampu : Dr. Nurodin Usman, Lc. MA
![]() |
RAMINI
: 13.0401.0012
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MAGELANG
2015
A.
Pendahuluan
Sudah menjadi
rahasia umum bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar pengaruhnya
terhadap segala aspek kehidupan manusia dan cenderung mempercayakan nasib dunia
dan umat manusia pada keampuhan ilmu pengetahuan dan penerapan-penerapannya
yang disebut teknologi.
Islam sangat mengutamakan ilmu pengetahuan, terbukti
dengan adanya wahyu yang pertama diturunkan adalah berkaitan dengan ilmu
pengetahuan. Allah SWT menyuruh manusia untuk belajar, mencari ilmu, menggali
ilmu dan berpikir. Iqra' yang berarti bacalah adalah sebagai simbol
pentingnya pendidikan bagi umat Islam karena pendidikan merupakan masalah hidup
yang mewarnai kehidupan manusia dan agama Islam mengharuskan untuk mencarinya
yang tidak terbatas pada usia, tempat, jarak, waktu dan keadaan.
Menurut pandangan Islam kewajiban menuntut ilmu
tidak kalah pentingnya dengan berjihad, dalam arti pendidikan dan pengajaran
serta keimanan harus seimbang. Karena seorang mukmin yang sempurna adalah mampu
mengamalkan ilmunya dengan dasar takwa kepada Allah SWT.
Apalagi pada zaman sekarang pengetahuan dan
teknologi memang membawa kemudahan bagi manusia dan perkembangannya yang
semakin pesat dan canggih. Serta manusia yang selalu berusaha mengembangkan
ilmu dan teknologi itu yang telah membawa kejayaan bagi kehidupannya. Namun ketika
manusia begitu berlimpah dengan kemajuan-kemajuan inteleknya tanpa ada pegangan
tentang agama, ke-Tuhanan, maka tentu saja hal itu amat berbahaya.
B.
Kajian Teori
1. Iman
a. Pengertian
Iman
Iman
menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan hati atau keteguhan
hati (Poewadarminta. 2000:18). Iman berasal dari bahasa arab amana-yu’minu-imanan
yang artinya beriman atau percaya. Percaya dalam bahasa Indonesia artinya
meyakini atau yakin bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu, memang benar atau nyata
adanya.
Sedangkan
iman menurut hadits yang diriwayatkan oleh muslim adalah “Musaddad telah
menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il Ibn Ibrahim telah
menceritakan kepada kami, Abu Hayyan aL-Taimiy dari Abi Zur’ah telah
menyampaikan kepada kami dari Abi Hurairah berkata, Nabi SAW suatu hari ketika orang-orang
berkumpul, maka datang seorang laki-laki dan berkata: apakah iman itu?, Nabi
menjawab Iman adalah percayakepada Allah, kepada malaikat Allah, kitab-kitab
Allah, Rasulrasul Allah, ketentuan-ketentuan Allah SWT dan percaya kepada Hari
kiamat (Berbangkit dari kubur).... (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud,
aT-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal).
b. Unsur-unsur
iman
Unsur-unsur
Iman juga disebut sebagai rukun Iman dan rukun Iman itu ada enam yaitu:
1. Iman
Kepada Allah SWT
Yang dimaksud Iman
kepada Allah SWT adalah membenarkan
adanya Allah SWT, dengan
cara menyakini dan mengetahui bahwa Allah SWT wajib adanya karena Zatnya
sendiri (Wajib aL-wujud li Dzathi), Tunggal dan Esa, Raja yang Maha
kuasa, yang hidup dan berdiri sendiri, yang Qodim dan Azali untuk
selamanya. “Dia Maha Mengetahui dan Maha kuasa terhadap segala sesuatu,
berbuat apa yang Ia kehendaki, menentukan apa yang Ia inginkan, tiada
sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Dia Maha Mengetahui.
Jadi
Iman kepada Allah SWT adalah mempercayai adanya Allah SWT beserta seluruh ke
Agungan Allah SWT dengan bukti-bukti yang nyata kita lihat yaitu dengan
diciptakannya dunia ini beserta isinya.
2. Iman
Kepada Para Malaikat
Iman kepada para malaikat adalah percaya
bahwa malaikat itu makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak pernah membangkang perintah-Nya,
juga makhluk gaib yang mejadi perantara-perantara Allah SWT dengan para Rasul.
3. Iman
Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT ialah
menyakini bahwa kitab-kitab tersebut datang dari sisi Allah SWT yang diturunkan
kepada sebagian Rasulnya.
4. Iman
Kepada Para Rasul
Iman kepada Rasul adalah percaya dan
yakin bahwa Allah SWT telah mengutus para Rasul kepada manusia untuk memberi
petunjuk kepada manusia,
5. Iman
Kepada Hari Akhir
Hari akhir ialah
Hari Kiamat, termasuk kebangkitan (al-ba’ts),“yaitu keluarnya
manusia dari kubur mereka dalam keadaan hidup, sesudah jazad mereka
dikembalikan dengan seluruh bagiannya seperti dulu kala ada di dunia”.
6.
Iman
Kepada Takdir (Qodha dan Qodhar)
Iman kepada Qodha dan Qodhar adalah
percaya bahwa segala hak, keputusan, perintah, ciptaan Allah SWT yang berlaku
pada makhluknya termasuk dari kita (manusia) tidaklah terlepas (selalu
berlandaskan pada) kadar, ukuran, aturan dan kekuasaan Allah SWT.
2. Ilmu
Pengetahuan
a. Pengertian
Ilmu Pengetahuan
Ujang Wahyudin dalam karya ilmiahnya menurut Jujun S. Suriasumarti “Ilmu merupakan
kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dan
pengetahuan-pengetahuan lainnya”.
Sedangkan
Endang Saifuddin Anshari dalam karya ilmiah karya Ujang Wahyudin berpendapat
bahwa “ilmu pengetahuan ialah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu
sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian, dan hukum-hukum
tentang hal ikhwal daya pikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang
kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperiman”.
Dari
semua pendapat para ahli tersebut, pada intinya adalah sama walaupun berbeda
dari segi redaksinya dan kesemuanya dapat saling melengkapi karena tidak ada pendapat
yang sempurna. Jadi antara satu pendapat dengan pendapat yang lain harus saling
melengkapi. Di lain pihak pengetahuan akan dapat disebut Ilmu jika memenuhi 4
syarat yaitu:
1. Memiliki
obyek yang dikaji atau dipelajari
2. Mempunyai
tujuan
3. Diperoleh
melalui metode ilmiah
4. Sistematis
b. Klasifikasi
Ilmu Dalam Islam
Di sini akan dibahas klasifikasi ilmu
pengetahuan menurut aLGhazali dan Ibnu Khaldun;
1. Menurut
al- Ghazali
Al-Ghazali
mengklasifikan ilmu pengetahuan berdasarkan tiga kriteria:
a).
Berdasarkan tingkat kewajibannya
Adapun
Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut tingkat kewajibannya yaitu:
1).
Ilmu pengetahuan Fardu’ain
2).
Ilmu pengetahuan Fardu kifayah
b).
Berdasarkan sumbernya
Adapun Klasifikasi Ilmu pengetahuan
menurut sumbernya yaitu:
1). Pengetahuan syariah
yang terdiri dari empat bagian yaitu ushul (pokok atau asal), Furu’
(cabang), mukaddimah (pengantar/pendahuluan), dan Mutammimat (penyempurna).
2). Pengetahuan ghairu
syariah
c).
Berdasarkan fungsi sosialnya
Adapun
Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut fungsi sosialnya yaitu:
1). Ilmu
pengetahuan yang terpuji (Mahmud)
2). Ilmu
pengetahuan yang tercela (Madzum).
2. Menurut
Ibnu Khaldun
Klasifikasi
ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Ilmu-ilmu
filsafat (‘Ulumul ‘Aqlyah) yaitu buah dari aktivitas pikiran manusia dan
perenungannya. Ilmu-ilmu itu tidak bersifat alamiah bagi manusia, dengan
pandangan bahwa ia adalah homo sapiens (makhluk yang punya akal).
Ilmu-ilmu ini tidak khusus bagi suatu agama lain, dan mereka sama dalam
menerima pengetahuan dan bahasanya. Ilmu-ilmu ini terdiri dari: logika, fisika,
ilmu dalam, metafisika, geometri, ilmu ukur, aljabar, angka-angka, faroid dan
optika serta astronomi.
b.
Ilmu
tradisional, konvensional (al ‘ulumu An Naqlyah al wadliyah), meliputi:
Ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu Qiroat, ushul Fiqh, Fiqh (Taklif), badan
dan qolbi, keimanan, aqidah, tasawuf, dan taa‟bir mimpi, ilmu kalam.
c. Ilmu
Alat, ini terbagi dua yaitu, Ilmu alat yang membantu syariat seperti Ilmu
lughot, ilmu nahwu, balaghoh dan lainnya, serta ilmu alat yang membantu
ilmu aqliyah seperti Ilmu Mantiq
c. Kedudukan
Ilmu menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam
ajaran islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al qur’an yang memandang
orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadits-hadits nabi
yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al
Mujadalah ayat 11 “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan)
orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi
ilmu pengetahuan) dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Ayat ini
dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan memperoleh
kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong
untuk menuntut Ilmu dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar
betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa takut kepada
Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya.
C.
Data Objetif
1. Data
Objektif
“Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berlapang-lapanglah di
Dalam Majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan , “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya
Allah akan mengangkat (derajat) oaring-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilm beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang
kamu kerjakan.
“Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berlapang-lapanglah di
Dalam Majlis”. Artinya bahwa majlis, yaitu duduk bersama. Asal mulanya duduk
bersama mengelilingi nabi karean hendak mendengar ajaran-ajaran yang hendak
beliau keluarkan. Tentu ada yang datang terlebih dahulu, sehingga tempat duduk
bersama itu kelihatan telah sempit. Karena di waktu itu orang duduk bersama di atas tanah, belum memakai kursi seperti
sekarang. Niscaya karena sempitnya itu, orang yang datang kemudian tidak lagi
mendapat tempat. Lalu dianjurkan oleh rosu; agar yang telah duduk terlebih
dahulu melapangkan tempat bagi yang datang kemudian. Sebab pada hakekatnya
tempat itu belumlah sesempit apa yang kita sangka. Sebab itu hendaklah yang
telah duduk lebih dahulu melapangkan temapat bagi mereka yang baru datang.
Karena yang sepi itu bukan tempat, melainkan hati.
Oleh
sebab itu apakah yang mesti dilapangkan lebih dahulu, tempatkah atau hati?
Niscaya hatilah! Sebab bila kita lihat orang baru datang, kesan pertama ialah
enggan memberikan tempat!.
Begitu
pula dalam majlis pengajian dalam Masjid sendiri. Betapapun sempitnya tempat
pada anggapan semula, kenyataanya masih bisa dimuat orang lagi. Yang di luar
disuruh masuk ke dalam, karna tempat masih lebar, meskipun ada yang telah
mendapatkan tempat duduk itu yang kurang senang melapangkan tempat. Oleh sebab
itu mak adi dalam ayat ini diserulah terlebih dulu dengan panggilan
“orang-orang beriman”, sebab orang-orang yang beriman itu hatinya lapang,
diapun mencintai saudaranya yang terlambat masuk. Lanjutan ayat mengatakan,
“niscaya Allah akan memberikan kelapangan bagimu”. Artinya, karena hati telah
dilapangkan terlebih dahulu menerima teman, hati kedua belah pihak akan
sama-sama terbuka. Hati yang terbuka akan memudahkan segala urusan.
Kalau
hati sudah lapang, fikiran pun lega, akal pun terbuka dan rezeki yang halal pun
dapat didatangkan Tuhan dengan lancar. Kekayaan yang istimewa dalam kehidupan
ini terutama ialah banyak-banyak kontak diantara diri dan masyarakat.
“
Dan jika dikatakan kepada kamu “berdirilah”, maka berdirilah!”, Ar Razi
mengatakan dalam tafsirnya bahwa maksud dari kata-kata ini ada dua; 1). Jika
disuruh orang kamu berdiri untuk memberikan tempat kepada yang lain yang lebih
patut untuk berdiri yang lebih patut
duduk di tempat yang kamu duduki itu, segeralah berdiri!, 2). Yaitu jika
disuruh berdiri karean kamu sudah lama duduk, supaya orang lain yang belum
mendapat kesempatan diberi peluang, maka segeralah kamu berdiri!.
“Allah
akan mengangkat orang-oarang yang beriman di antamu beberapa derajat”.
Sambungan ayat ini pun mengandung dua tafsir. Pertama jika seseorang disuruh
melapangkan majlis, yang berarti melapangkan hati, bahkan jika dia disuruh
berdiri sekali pun lalu memberikan trmpatnya kepada orang yang patut didudukkan
di muka, janganlah dia berkecil hati. Melainkan hendaknya dia berlapang dada.
Karena orang yang berlapang dada itulah kelak yang akan diangkat Allah imannya
dan ilmunya, sehingga derajatnya bertambah naik. Orang yang patuh dan sudi
memberikan tempat kepada orang lain itulalah yang akan bertambah ilmunya.
Kedua; memanga ada orang yang diangkat Allah derajatnya lebih tinggi daripada
orang kebanyakan, pertama karean imannya,kedua karena ilmunya. Iman memberikan
cahaya pada jiwa, disebut juga pada moral. Sedangkan ilmu pengetahuan member
sinar pada mata. Iman dan ilmu membuat orang jadi mantap. Membuat orang menjadi
agung, walaupun tidak ada pangkat yang disandangnya. Sebab cahaya itu datangnya
dari dalam dirinya sendiri, bukan dari luar.
“Dan
Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan”, pokok hidup utama adalah iman dan
pokok pengirinya adalah ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya
terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah, padahal
mendurhakai Allah. Sebaliknya orang yang berilmu saja tidak disertai atau tidak
membawanya pada iman, maka ilmunya itu dapat membahayakan bagi dirinya sendiri
maupun bagi sasama manusia. Ilmu apabila disertai dengan iman maka akan membawa
faedah yang besar bagi seluruh per kemanusiaan. Tetapi ilmu itupun dapat
dipergunakan orang untuk memusnahkan sesame manusia, karena jiwanya tidak
dikontrol oleh iman kepada Allah (Hamka. 1981: 40-46)
2. Analisis
Peran pendidikan
Islam dalam lembaga pendidikan sebagai tempat belajar mengajar yang dapat
menghasilkan manusia berintelektual dan berakidah, dan juga dalam masyarakat
luas di mana di dalamnya berkembang budaya, sosial dan ekonomi pendidikan Islam
harus memberi keuntungan bagi sumber daya masyarakat itu, dalam arti luas maka
pendidikan Islam harus mampu mengembangkan pemahaman kehidupan manusia, kondisi
lingkungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara tegas aL-Qur'an telah mengatakan
bahwa tidak sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui. Dalam firmannya Allah SWT berfirman: “… Adakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. az-Zumar/ 39:9).
mengetahui sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. az-Zumar/ 39:9).
Apabila manusia
hidup berdasarkan akal saja, terlalu memuja ilmu pengetahuan dan melupakan
unsur keimanan maka ia akan sering terbentur perasaan gelisah dan cemas. Karena
ilmu pengetahuan dimulai dari tidak percaya, mencari bukti dan akhirnya setelah
ada pembuktian barulah dipercayai, sementara itu tidak dapat dipungkiri pada
suatu saat kelak akan datang pakar lain, membuktikan bahwa temuan yang dulu
tidak benar, segala sesuatu baik harta, pangkat, keturunan maupun ilmu
pengetahuan tanpa disertai agama telah terbukti gagal mengantarkan manusia pada
kehidupan bahagia dengan pelaksanaannya berpedoman kepada pokokpokok ajaran
Islam (Arkanul Islam) yang lima; “dua kalimah syahadat, shalat, puasa,
zakat dan haji, akan membawa manusia kepada kehidupan manusia yang tentram dan
bahagia”.
Keimanan dalam arti luas yaitu beriman dan bertakwa
sepenuhnya kepada Allah SWT, beserta unsur-unsur keimanan harus diiringi dengan
ilmu, dalam arti berpengetahuan bagaimana cara beriman yang benar. Ilmu
pengetahuan di sini dalam arti luas yaitu tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama
tapi juga mencakup ilmu pengetahuan umum beserta penerapannya yaitu teknologi.
Tujuan utama manusia diciptakan adalah mendekatkan
diri kepada Allah SWT dan mendapatkan ridha-Nya, sementara ilmu sebagai alat
untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah SWT, keridhaan dan kedekatan
pada-Nya. Dan ilmu ini mencakup
“ilmu-ilmu kealaman maupun ilmu syariah, jadi beriman kepada Allah SWT tidak sekedar lewat sholat, puasa, tetapi sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah ibadah. Salah satunya yaitu mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan karena itu salah satu cara untuk menolong manusia untuk lebih dekat kepada Allah SWT”.
“ilmu-ilmu kealaman maupun ilmu syariah, jadi beriman kepada Allah SWT tidak sekedar lewat sholat, puasa, tetapi sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah ibadah. Salah satunya yaitu mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan karena itu salah satu cara untuk menolong manusia untuk lebih dekat kepada Allah SWT”.
Iman dan ilmu
mengantarkan manusia menjadi makhluk yang utama sehingga kedudukannya dalam
masyarakat pun dihormati, dihargai sementara di akherat mendapat kebahagiaan
abadi.
Firman Allah
SWT: ““Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu,
“berlapang-lapanglah di Dalam Majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan
memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan , “berdirilah kamu”, maka
berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) oaring-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilm beberapa derajat. Dan Allah Maha
teliti apa yang kamu kerjakan”, (Al Mujadilah: 11)
Pada bagian ayat
ini Allah menegaskan bahwa orang-orang mukmin karena selalu mentaati perintah
Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, yang ilmunya
dapat mengantarkan mereka ke jalan iman, semuanya akan ditingkatkan derajatnya
disisi Allah SWT. Ini berarti peranan iman dan ilmu dan meningkatkan derajat
dan harkat manusia itu sama, iman yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan
adalah iman yang lemah sekali dan ilmu pengetahuan yang tidak bisa membuka hati
untuk bertambahnya iman, maka ilmu itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri
maupun orang lain.
D. Simpulan
Iman
dan ilmu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang utama sehingga kedudukannya
dalam masyarakat pun dihormati, dihargai sementara di akherat mendapat
kebahagiaan abadi.
Allah menegaskan bahwa orang-orang mukmin karena
selalu mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan, yang ilmunya dapat mengantarkan mereka ke jalan iman, semuanya
akan ditingkatkan derajatnya disisi Allah SWT. Ini berarti peranan iman dan
ilmu dan meningkatkan derajat dan harkat manusia itu sama, iman yang tidak
didasarkan pada ilmu pengetahuan adalah iman yang lemah sekali dan ilmu
pengetahuan yang tidak bisa membuka hati untuk bertambahnya iman, maka ilmu itu
sangat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
E.
Daftar Pustaka
Depdikbud.
2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Beirut
Hamka.
1981. Tafsir Al Azhar . Surabaya: Yayasan Latimojong
Wahyudin,
Ujang. 2014. Nilai-nilai Pendidikan Integrasi Iman dan Ilmu Pengetahuan dalam
Al Qur’an. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25305/1/UJANG%20WAHYUDIN-FTK.pdf.
(diakses Tanggal 25 September 2015)
