Senin, 11 Januari 2016

KONSEP KEUTAMAAN IMAN DAN ILMU DALAM SURAT AL MUJADILAH AYAT 11
(Kajian Tafsir Al Azhar Karya Buya Hamka)
Makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Tafsir
Dosen Pengampu : Dr. Nurodin Usman, Lc. MA

                     RAMINI : 13.0401.0012               

                  



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
                                                 2015

A.    Pendahuluan
Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar pengaruhnya terhadap segala aspek kehidupan manusia dan cenderung mempercayakan nasib dunia dan umat manusia pada keampuhan ilmu pengetahuan dan penerapan-penerapannya yang disebut teknologi.
Islam sangat mengutamakan ilmu pengetahuan, terbukti dengan adanya wahyu yang pertama diturunkan adalah berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Allah SWT menyuruh manusia untuk belajar, mencari ilmu, menggali ilmu dan berpikir. Iqra' yang berarti bacalah adalah sebagai simbol pentingnya pendidikan bagi umat Islam karena pendidikan merupakan masalah hidup yang mewarnai kehidupan manusia dan agama Islam mengharuskan untuk mencarinya yang tidak terbatas pada usia, tempat, jarak, waktu dan keadaan.
Menurut pandangan Islam kewajiban menuntut ilmu tidak kalah pentingnya dengan berjihad, dalam arti pendidikan dan pengajaran serta keimanan harus seimbang. Karena seorang mukmin yang sempurna adalah mampu mengamalkan ilmunya dengan dasar takwa kepada Allah SWT.
Apalagi pada zaman sekarang pengetahuan dan teknologi memang membawa kemudahan bagi manusia dan perkembangannya yang semakin pesat dan canggih. Serta manusia yang selalu berusaha mengembangkan ilmu dan teknologi itu yang telah membawa kejayaan bagi kehidupannya. Namun ketika manusia begitu berlimpah dengan kemajuan-kemajuan inteleknya tanpa ada pegangan tentang agama, ke-Tuhanan, maka tentu saja hal itu amat berbahaya.




B.     Kajian Teori
1.      Iman
a.       Pengertian Iman
Iman menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan hati atau keteguhan hati (Poewadarminta. 2000:18). Iman berasal dari bahasa arab amana-yu’minu-imanan yang artinya beriman atau percaya. Percaya dalam bahasa Indonesia artinya meyakini atau yakin bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu, memang benar atau nyata adanya.
Sedangkan iman menurut hadits yang diriwayatkan oleh muslim adalah “Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il Ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan aL-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abi Hurairah berkata, Nabi SAW suatu hari ketika orang-orang berkumpul, maka datang seorang laki-laki dan berkata: apakah iman itu?, Nabi menjawab Iman adalah percayakepada Allah, kepada malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rasulrasul Allah, ketentuan-ketentuan Allah SWT dan percaya kepada Hari kiamat (Berbangkit dari kubur).... (HR. Bukhori, Muslim, Abu Daud, aT-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal).
b.      Unsur-unsur iman
Unsur-unsur Iman juga disebut sebagai rukun Iman dan rukun Iman itu ada enam yaitu:
1.      Iman Kepada Allah SWT
Yang dimaksud Iman kepada Allah SWT adalah membenarkan
adanya Allah SWT, dengan cara menyakini dan mengetahui bahwa Allah SWT wajib adanya karena Zatnya sendiri (Wajib aL-wujud li Dzathi), Tunggal dan Esa, Raja yang Maha kuasa, yang hidup dan berdiri sendiri, yang Qodim dan Azali untuk selamanya. “Dia Maha Mengetahui dan Maha kuasa terhadap segala sesuatu, berbuat apa yang Ia kehendaki, menentukan apa yang Ia inginkan, tiada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan Dia Maha Mengetahui.
Jadi Iman kepada Allah SWT adalah mempercayai adanya Allah SWT beserta seluruh ke Agungan Allah SWT dengan bukti-bukti yang nyata kita lihat yaitu dengan diciptakannya dunia ini beserta isinya.
2.      Iman Kepada Para Malaikat
Iman kepada para malaikat adalah percaya bahwa malaikat itu makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak pernah membangkang perintah-Nya, juga makhluk gaib yang mejadi perantara-perantara Allah SWT dengan para Rasul.
3.      Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT
Iman kepada kitab-kitab Allah SWT ialah menyakini bahwa kitab-kitab tersebut datang dari sisi Allah SWT yang diturunkan kepada sebagian Rasulnya.
4.      Iman Kepada Para Rasul
Iman kepada Rasul adalah percaya dan yakin bahwa Allah SWT telah mengutus para Rasul kepada manusia untuk memberi petunjuk kepada manusia,
5.      Iman Kepada Hari Akhir
Hari akhir ialah Hari Kiamat, termasuk kebangkitan (al-ba’ts),“yaitu keluarnya manusia dari kubur mereka dalam keadaan hidup, sesudah jazad mereka dikembalikan dengan seluruh bagiannya seperti dulu kala ada di dunia”.
6.      Iman Kepada Takdir (Qodha dan Qodhar)
Iman kepada Qodha dan Qodhar adalah percaya bahwa segala hak, keputusan, perintah, ciptaan Allah SWT yang berlaku pada makhluknya termasuk dari kita (manusia) tidaklah terlepas (selalu berlandaskan pada) kadar, ukuran, aturan dan kekuasaan Allah SWT.
2.      Ilmu Pengetahuan
a.       Pengertian Ilmu Pengetahuan
Ujang Wahyudin dalam karya ilmiahnya  menurut Jujun S. Suriasumarti “Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu yang membedakan ilmu dan pengetahuan-pengetahuan lainnya”.
Sedangkan Endang Saifuddin Anshari dalam karya ilmiah karya Ujang Wahyudin berpendapat bahwa “ilmu pengetahuan ialah usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu sistem mengenai kenyataan, struktur, pembagian, bagian-bagian, dan hukum-hukum tentang hal ikhwal daya pikiran yang dibantu penginderaan manusia itu, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperiman”.
Dari semua pendapat para ahli tersebut, pada intinya adalah sama walaupun berbeda dari segi redaksinya dan kesemuanya dapat saling melengkapi karena tidak ada pendapat yang sempurna. Jadi antara satu pendapat dengan pendapat yang lain harus saling melengkapi. Di lain pihak pengetahuan akan dapat disebut Ilmu jika memenuhi 4 syarat yaitu:
1.      Memiliki obyek yang dikaji atau dipelajari
2.      Mempunyai tujuan
3.      Diperoleh melalui metode ilmiah
4.      Sistematis
b.      Klasifikasi Ilmu Dalam Islam
Di sini akan dibahas klasifikasi ilmu pengetahuan menurut aLGhazali dan Ibnu Khaldun;
1.      Menurut al- Ghazali
Al-Ghazali mengklasifikan ilmu pengetahuan berdasarkan tiga kriteria:
a). Berdasarkan tingkat kewajibannya
Adapun Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut tingkat kewajibannya yaitu:
                                    1). Ilmu pengetahuan Fardu’ain
                                    2). Ilmu pengetahuan Fardu kifayah
b). Berdasarkan sumbernya
Adapun Klasifikasi Ilmu pengetahuan menurut sumbernya yaitu:
1). Pengetahuan syariah yang terdiri dari empat bagian yaitu ushul (pokok atau asal), Furu’ (cabang), mukaddimah (pengantar/pendahuluan), dan Mutammimat (penyempurna).
2). Pengetahuan ghairu syariah
c). Berdasarkan fungsi sosialnya
Adapun Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut fungsi sosialnya yaitu:
                                    1). Ilmu pengetahuan yang terpuji (Mahmud)
                                    2). Ilmu pengetahuan yang tercela (Madzum).
2.      Menurut Ibnu Khaldun
Klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Ibnu Khaldun dapat disimpulkan sebagai berikut :
a.       Ilmu-ilmu filsafat (‘Ulumul ‘Aqlyah) yaitu buah dari aktivitas pikiran manusia dan perenungannya. Ilmu-ilmu itu tidak bersifat alamiah bagi manusia, dengan pandangan bahwa ia adalah homo sapiens (makhluk yang punya akal). Ilmu-ilmu ini tidak khusus bagi suatu agama lain, dan mereka sama dalam menerima pengetahuan dan bahasanya. Ilmu-ilmu ini terdiri dari: logika, fisika, ilmu dalam, metafisika, geometri, ilmu ukur, aljabar, angka-angka, faroid dan optika serta astronomi.
b.      Ilmu tradisional, konvensional (al ‘ulumu An Naqlyah al wadliyah), meliputi: Ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu Qiroat, ushul Fiqh, Fiqh (Taklif), badan dan qolbi, keimanan, aqidah, tasawuf, dan taa‟bir mimpi, ilmu kalam.
c.       Ilmu Alat, ini terbagi dua yaitu, Ilmu alat yang membantu syariat seperti Ilmu lughot, ilmu nahwu, balaghoh dan lainnya, serta ilmu alat yang membantu ilmu aqliyah seperti Ilmu Mantiq
c.       Kedudukan Ilmu menurut Islam
Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadits-hadits nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.
Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an surat Al Mujadalah ayat 11 “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang berirman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan) dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Ayat ini dengan jelas menunjukan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut Ilmu dan Ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa takut kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya.
C.     Data Objetif
1.      Data Objektif
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berlapang-lapanglah di Dalam Majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan , “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) oaring-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilm beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berlapang-lapanglah di Dalam Majlis”. Artinya bahwa majlis, yaitu duduk bersama. Asal mulanya duduk bersama mengelilingi nabi karean hendak mendengar ajaran-ajaran yang hendak beliau keluarkan. Tentu ada yang datang terlebih dahulu, sehingga tempat duduk bersama itu kelihatan telah sempit. Karena di waktu itu orang duduk bersama  di atas tanah, belum memakai kursi seperti sekarang. Niscaya karena sempitnya itu, orang yang datang kemudian tidak lagi mendapat tempat. Lalu dianjurkan oleh rosu; agar yang telah duduk terlebih dahulu melapangkan tempat bagi yang datang kemudian. Sebab pada hakekatnya tempat itu belumlah sesempit apa yang kita sangka. Sebab itu hendaklah yang telah duduk lebih dahulu melapangkan temapat bagi mereka yang baru datang. Karena yang sepi itu bukan tempat, melainkan hati.
Oleh sebab itu apakah yang mesti dilapangkan lebih dahulu, tempatkah atau hati? Niscaya hatilah! Sebab bila kita lihat orang baru datang, kesan pertama ialah enggan memberikan tempat!.
Begitu pula dalam majlis pengajian dalam Masjid sendiri. Betapapun sempitnya tempat pada anggapan semula, kenyataanya masih bisa dimuat orang lagi. Yang di luar disuruh masuk ke dalam, karna tempat masih lebar, meskipun ada yang telah mendapatkan tempat duduk itu yang kurang senang melapangkan tempat. Oleh sebab itu mak adi dalam ayat ini diserulah terlebih dulu dengan panggilan “orang-orang beriman”, sebab orang-orang yang beriman itu hatinya lapang, diapun mencintai saudaranya yang terlambat masuk. Lanjutan ayat mengatakan, “niscaya Allah akan memberikan kelapangan bagimu”. Artinya, karena hati telah dilapangkan terlebih dahulu menerima teman, hati kedua belah pihak akan sama-sama terbuka. Hati yang terbuka akan memudahkan segala urusan.
Kalau hati sudah lapang, fikiran pun lega, akal pun terbuka dan rezeki yang halal pun dapat didatangkan Tuhan dengan lancar. Kekayaan yang istimewa dalam kehidupan ini terutama ialah banyak-banyak kontak diantara diri dan masyarakat. 
“ Dan jika dikatakan kepada kamu “berdirilah”, maka berdirilah!”, Ar Razi mengatakan dalam tafsirnya bahwa maksud dari kata-kata ini ada dua; 1). Jika disuruh orang kamu berdiri untuk memberikan tempat kepada yang lain yang lebih patut untuk berdiri yang lebih patut  duduk di tempat yang kamu duduki itu, segeralah berdiri!, 2). Yaitu jika disuruh berdiri karean kamu sudah lama duduk, supaya orang lain yang belum mendapat kesempatan diberi peluang, maka segeralah kamu berdiri!.
“Allah akan mengangkat orang-oarang yang beriman di antamu beberapa derajat”. Sambungan ayat ini pun mengandung dua tafsir. Pertama jika seseorang disuruh melapangkan majlis, yang berarti melapangkan hati, bahkan jika dia disuruh berdiri sekali pun lalu memberikan trmpatnya kepada orang yang patut didudukkan di muka, janganlah dia berkecil hati. Melainkan hendaknya dia berlapang dada. Karena orang yang berlapang dada itulah kelak yang akan diangkat Allah imannya dan ilmunya, sehingga derajatnya bertambah naik. Orang yang patuh dan sudi memberikan tempat kepada orang lain itulalah yang akan bertambah ilmunya. Kedua; memanga ada orang yang diangkat Allah derajatnya lebih tinggi daripada orang kebanyakan, pertama karean imannya,kedua karena ilmunya. Iman memberikan cahaya pada jiwa, disebut juga pada moral. Sedangkan ilmu pengetahuan member sinar pada mata. Iman dan ilmu membuat orang jadi mantap. Membuat orang menjadi agung, walaupun tidak ada pangkat yang disandangnya. Sebab cahaya itu datangnya dari dalam dirinya sendiri, bukan dari luar.
“Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan”, pokok hidup utama adalah iman dan pokok pengirinya adalah ilmu. Iman tidak disertai ilmu dapat membawa dirinya terperosok mengerjakan pekerjaan yang disangka menyembah Allah, padahal mendurhakai Allah. Sebaliknya orang yang berilmu saja tidak disertai atau tidak membawanya pada iman, maka ilmunya itu dapat membahayakan bagi dirinya sendiri maupun bagi sasama manusia. Ilmu apabila disertai dengan iman maka akan membawa faedah yang besar bagi seluruh per kemanusiaan. Tetapi ilmu itupun dapat dipergunakan orang untuk memusnahkan sesame manusia, karena jiwanya tidak dikontrol oleh iman kepada Allah (Hamka. 1981: 40-46)  
2.      Analisis
Peran pendidikan Islam dalam lembaga pendidikan sebagai tempat belajar mengajar yang dapat menghasilkan manusia berintelektual dan berakidah, dan juga dalam masyarakat luas di mana di dalamnya berkembang budaya, sosial dan ekonomi pendidikan Islam harus memberi keuntungan bagi sumber daya masyarakat itu, dalam arti luas maka pendidikan Islam harus mampu mengembangkan pemahaman kehidupan manusia, kondisi lingkungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Secara tegas aL-Qur'an telah mengatakan bahwa tidak sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui. Dalam firmannya Allah SWT berfirman: “… Adakah sama antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak
mengetahui sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. az-Zumar/ 39:9).
Apabila manusia hidup berdasarkan akal saja, terlalu memuja ilmu pengetahuan dan melupakan unsur keimanan maka ia akan sering terbentur perasaan gelisah dan cemas. Karena ilmu pengetahuan dimulai dari tidak percaya, mencari bukti dan akhirnya setelah ada pembuktian barulah dipercayai, sementara itu tidak dapat dipungkiri pada suatu saat kelak akan datang pakar lain, membuktikan bahwa temuan yang dulu tidak benar, segala sesuatu baik harta, pangkat, keturunan maupun ilmu pengetahuan tanpa disertai agama telah terbukti gagal mengantarkan manusia pada kehidupan bahagia dengan pelaksanaannya berpedoman kepada pokokpokok ajaran Islam (Arkanul Islam) yang lima; “dua kalimah syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji, akan membawa manusia kepada kehidupan manusia yang tentram dan bahagia”.
Keimanan dalam arti luas yaitu beriman dan bertakwa sepenuhnya kepada Allah SWT, beserta unsur-unsur keimanan harus diiringi dengan ilmu, dalam arti berpengetahuan bagaimana cara beriman yang benar. Ilmu pengetahuan di sini dalam arti luas yaitu tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama tapi juga mencakup ilmu pengetahuan umum beserta penerapannya yaitu teknologi.
Tujuan utama manusia diciptakan adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan ridha-Nya, sementara ilmu sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan tentang Allah SWT, keridhaan dan kedekatan pada-Nya. Dan ilmu ini mencakup
“ilmu-ilmu kealaman maupun ilmu syariah, jadi beriman kepada Allah SWT tidak sekedar lewat sholat, puasa, tetapi sesuatu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah ibadah. Salah satunya yaitu mempelajari dan menguasai ilmu pengetahuan karena itu salah satu cara untuk menolong manusia untuk lebih dekat kepada Allah SWT”.
Iman dan ilmu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang utama sehingga kedudukannya dalam masyarakat pun dihormati, dihargai sementara di akherat mendapat kebahagiaan abadi.
Firman Allah SWT: ““Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “berlapang-lapanglah di Dalam Majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberikan kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan , “berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) oaring-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilm beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan”, (Al Mujadilah: 11)
Pada bagian ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang mukmin karena selalu mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, yang ilmunya dapat mengantarkan mereka ke jalan iman, semuanya akan ditingkatkan derajatnya disisi Allah SWT. Ini berarti peranan iman dan ilmu dan meningkatkan derajat dan harkat manusia itu sama, iman yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan adalah iman yang lemah sekali dan ilmu pengetahuan yang tidak bisa membuka hati untuk bertambahnya iman, maka ilmu itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.














D.    Simpulan
Iman dan ilmu mengantarkan manusia menjadi makhluk yang utama sehingga kedudukannya dalam masyarakat pun dihormati, dihargai sementara di akherat mendapat kebahagiaan abadi.
Allah menegaskan bahwa orang-orang mukmin karena selalu mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berilmu pengetahuan, yang ilmunya dapat mengantarkan mereka ke jalan iman, semuanya akan ditingkatkan derajatnya disisi Allah SWT. Ini berarti peranan iman dan ilmu dan meningkatkan derajat dan harkat manusia itu sama, iman yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan adalah iman yang lemah sekali dan ilmu pengetahuan yang tidak bisa membuka hati untuk bertambahnya iman, maka ilmu itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.


















E.     Daftar Pustaka
Depdikbud. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Beirut
Hamka. 1981. Tafsir Al Azhar . Surabaya: Yayasan Latimojong
Wahyudin, Ujang. 2014. Nilai-nilai Pendidikan Integrasi Iman dan Ilmu Pengetahuan dalam Al Qur’an. http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/25305/1/UJANG%20WAHYUDIN-FTK.pdf. (diakses Tanggal 25 September 2015)






1 komentar:

  1. Caesars Casino: Your One Stop Bookmakers - Dr.MCD
    Learn about the casino games and 여주 출장샵 online sportsbooks. 포항 출장마사지 you could 제주도 출장안마 win a 정읍 출장샵 huge amount of money 김천 출장마사지 by playing slot machines or playing live blackjack.

    BalasHapus